Fenomena siang hari lebih lama hingga 30 menit dibandingkan malam hari tengah berlangsung di Bali. Akibat siang hari yang lebih lama, di musim penghujan ini suhu udara juga diprediksi akan lebih panas hingga di atas 30 derajat.
Biasanya, matahari akan terbit pukul sekitar pukul 06.05 WITA dan terbenam sekitar pukul 18.00 WITA. Belakangan ini, matahari terbit sekitar pukul 06.20 WITA, sedangkan terbenam pukul hingga 18.40-18.50 WITA. Jika biasanya suhu udara di Bali 22-35 derajat celcius, namun belakangan ini mencapai 28-30 derajat celcius.
Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman mengatakan, fenomena ini disebut dengan pergerakan semu matahari. Di mana posisi matahari tengah berada di belahan bumi bagian selatan (BBS) ekuator. Akibatnya, intensitas matahari lebih lama dibandingkan biasanya.
"Kalau ditinjau dari keberadaan matahari, posisi matahari saat ini sedang berada di belahan bumi bagian selatan, di sekitar wilayah Indonesia. Sehingga Bali secara langsung menerima paparan dari sinar matahari hampir tegak lurus. Makanya di belahan bumi utara sedang musim dingin, sedangkan di selatan lebih hangat," jelas Imam saat dihubungi kumparan, Kamis (10/1).
Imam mengatakan, fenomena ini merupakan fenomena alam yang berlangsung setiap tahun, karena memasuki perubahan dari musim kemarau ke hujan. Fenomena seperti ini mulai terjadi sejak Desember 2018, dan akan kembali normal pada Maret 2019. Nantinya, Bali akan mengalami intensitas hujan yang lebih tinggi, dan udara lebih panas dibandingkan biasanya.
"Semakin rendah kelembapan, maka temperatur akan terasa lebih panas. Kelembapan menunjukan tingkat kebasahan udara," ujar dia.
Selain itu, gelombang laut di Bali juga diprediksi akan naik, sebab arah angin bergerak dari utara ke selatan. Imam memprediksi ketinggian gelombang laut di perairan Bali mencapai 2-3,5 meter.
Ia mengimbau masyarakat dan nelayan untuk waspada. Sementara untuk warga di Denpasar diingatkan agar membersihkan drainase saluran air.
"Karena ini masuk musim hujan, seperti biasa mempersiapkan diri untuk hal yang tidak diinginkan seperti adanya kemarin di Jembara, ada banjir bandang. Di Karangasem ada longsor. Untuk kota di Denpasar drainase dipersiapkan untuk menampung intesitas hujan yang semakin tinggi. Apalagi puncaknya di bulan Februari," ujar dia.
Artikel Asli

